Berbagi Cerita dan Pengetahuan

Mau Sampai Kapan Menyamakan Diri dengan Kucing dan Ikan Asin?


Hentikan Pelecehan Perempuan

Seperti biasa di hari libur kuliah, saya memiliki banyak sekali waktu senggang. Tentu saja waktu senggang tersebut saya habiskan untuk rebahan di tempat tidur yang empuk sambil scrolling-scrolling timeline di Twitter. Ketika sedang mencari tulisan status yang menarik, tiba-tiba saya kepo dan tertarik untuk membaca status dari salah satu akun seorang Perempuan yang bercerita bahwa dirinya baru saja mengalami Pelecehan Seksual. Saya pun membaca dengan serius isi tulisan status Perempuan tersebut dari kronologisnya sampai keadaan Perempuan tersebut saat ini. Lalu, Lagi-lagi saya kepo dan membuka isi komentar netizen terhadap peristiwa tersebut. Tidak disangka-sangka, isi komentar dari netizen “yang maha benar” itu membuat saya geram dan bertanya-tanya “Kok udah tahun 2019 masih ada aja ya orang yang mikirnya ngawur kayak gitu?”

Pada kolom komentar, saya menemukan banyak sekali netizen yang menyalahkan korban tersebut, seperti “Ya wajarlah dilecehin, mbaknya juga mancing sih!” atau “Makanya mbak ada baiknya pakai hijab biar ga ngundang nafsu lelaki,” dan ada satu komentar yang menjadi highlight dipikiran saya adalah “Yaelah mbak, makanya gausah ngundang. Kucing kalo dikasih Ikan Asin pasti diembat.” Analogi yang ngawur ini sering sekali terucap oleh manusia-manusia “yang maha benar” kepada korban pelecehan seksual. Mereka menganggap bahwa sudah sewajarnya Laki-laki sebagai Kucing yang tergoda karena Perempuan sebagai Ikan Asin itu sendiri yang menggoda mereka dan wajar jika Perempuan tersebut mengalami pelecehan seksual dan ironisnya bukan hanya oknum Laki-laki saja yang mengucapkan Analogi tersebut, bahkan tidak sedikit Perempuan yang justru meng-iyakan dan mengucapkan Analogi tersebut. Padahal, sudah seharusnya sesama Perempuan mendukung satu sama lain untuk membasmi pikiran mesum pelaku pelecehan seksual bukan malah mewajarkannya dan membiarkannya bebas berkeliaran. Oknum Laki-laki dengan bangganya menyamakan diri sebagai Kucing yang tidak memiliki akal dan sangat nafsu akan Ikan Asin dan begitu pula dengan oknum Perempuan tersebut, Mereka dengan bangganya menyamakan dirinya sebagai Ikan Asin yang memang sudah seharusnya pasrah menjadi santapan para Kucing. Are you serious girls?

Saya heran dengan Perempuan yang masih berpacu dengan Analogi ngawur tersebut. Apakah dia bersedia jika tiba-tiba “disentuh” Laki-laki asing di pinggir jalan hanya dengan alasan “abisnya kamu menggoda banget sih!” Apakah dia masih bisa mewajarkan perilaku pelaku tersebut? Saya bisa jamin dia tidak akan bisa mewajarkan perilaku tersebut dan akan merasa sangat terpukul. Lalu, mau sampai kapan menyamakan diri sebagai Ikan Asin? Dan untuk para oknum Laki-laki, apakah harga diri seorang laki-laki serendah itu sampai menyamakan diri dengan binatang yang tidak memiliki akal?

Lalu, mau sampai kapan menyamakan diri dengan Kucing dan Ikan Asin?

Selengkapnya

Copyright © Perempuan Berkisah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com